Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

7 Faktor penyebab seks bebas pada anak remaja

Faktor penyebab perilaku seks bebas pada anak remaja

Ilustrasi: gambar remaja dimarahi orang tua
www.pexels.com/@Monstera

Masa remaja adalah masa peralihan dari fase anak-anak menuju dewasa. Dalam periode ini terdapat beberapa berubahan yang signifikan  pada anak-anak remaja, yaitu perubahan yang bersifat fiisologis dan perubahan bersifat biologis.

Faktor Internal:
   1. Faktor Psikologis

gambar anak remaja merokok
www.pexels.com/@Ryan Arya

Perubahan-perubahan secara psikologis dapat dilihat dari beberapa perubahan yang ditunjukan dalam sikap, perasaan, minat, maupun dalam persahabatan dan cinta. Dalam tahap ini, biasanya anak remaja sudah ada tanda-tanda menyukai lawan jenisnya, yang ditandai  dengan adanya cinta monyet dikalangan anak remaja.

Pada masa ini anak-anak remaja akan memasuki tahap "pubertas", pada umumnya terjadi pada masa remaja madya dan remaja awal pada khususnya mengalami apa yang disebut dengan suasana labil dan bergejolak. 

Penting sekali bagi orang tua untuk memahami perubahan-perubahan yang terjadi secara alamiah pada anak-anaknya, yaitu dari masa anak-anak, remaja dan  menuju kepada dewasa. 

Dengan memahami perubahan-perubahan sikap dan perilaku yang terjadi pada anak, maka orang tua diharapkan dapat memberikan bimbingan dan pendidikan yang baik, supaya anak-anak bisa bertumbuh dengan pendidikan yang tepat dari keluarga. 

Biasanya, pada tahap ini anak-anak remaja ingin lebih diperhatikan, dan ingin didengarkan. Mereka suka bergaul dan memiliki banyak teman, maka orang tua diharapkan bisa menjadi sahabat dan teman bagi anak-anak remaja, supaya mereka bisa menemukan jati dirinya dengan benar serta menemukan seorang model yang bisa menjadi sahabat dan panutan yang selalu ada buat mereka.

  2. Faktor Fisiologis

Secara fisik anak remaja mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan, apabila dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya maka akan sangat berbeda sekali. Biasanya, masa remaja pada anak wanita terjadi lebih awal dari pada remaja laki-laki. Selain tinggi badan, biasanya anak-anak remaja mengalami perubahan-perubahan dalam proporsi tubuh yang membuat mereka kelihatan lebih dewasa.

Ketika anak-anak remaja sudah mengalami perubahan-perubahan secara biologis, maka mereka mereka mulai sadar dan mulai memperhatikan tentang gambar dirinya sendiri. persepsi tentang gambaran dirinya sendiri ini menunjuk kepada apa yang disebut physical self atau body image. 
Disini mereka mulai untuk merawat diri, berdandan, dan lain sebagainya, dan biasanya adanya kurang percaya diri, hal ini dikarenakan anak-anak remaja mulai sadar akan ciri-ciri fisiknya yang akan mempengaruhi kesan orang lain terhadap dirinya.

Selain itu, secara fisiologis, anak-anak remaja mengalami perubahan dan pertumbuhan, terutama fungsi seksualnya. Perkembangan hormon biasanya menimbulkan gejolak seksual yang tinggi pada anak-anak remaja, apabila tidak dikontrol dan dikendalikan maka bisa saja menimbulkan perilaku seks bebas pada mereka.

Pendampingan dan pendidikan orang tua sangat penting sekali pada tahap ini, karena masa remaja adalah masa yang palin rawan bagi mereka untuk terjerumus dalam tindakan-tindakan dan perilaku yang menyimpang.

  3. Faktor Spiritual

Faktor spiritual memberikan dampak yang sangat penting bagi kehidupan rohani remaja. Pada tahap ini, mereka mulai berpikir kritis, banyak pertanyaan, biasanya juga sering membantah orang tua, apabila teguran dan nasehat yang diberikan tidak sesuai dengan keinginan mereka.

Orang tua seharusnya mulai menyadari dan peka, terhadap perubuhan-perubahan yang terjadi pada anak-anaknya, karena mereka sedang mengalami pertumbuhan dan menjadi dewasa. Mereka juga biasanya memiliki banyak pertanyaan yang berkaitan dengan iman yang mulai bertumbuh didalam hatinya. 

Penting sekali pada tahap ini, orang tua bisa menjadi guru yang baik bagi anak-anaknya, dengan sabar mengajar, memberi teladan dan memberikan perhatian kepada mereka., supaya sifat kritis dalam diri mereka tidak digunakan untuk membantah dan melawan orang tua.

Faktor Eksternal
   1. Faktor keluarga

Peran orang tua dalam pendidikan anak sangat penting sekali, karena keluarga adalah tempat pertama dan utama bagi pendidikan anak. Apabila seoarang anak ketika masih kecil sudah melakukan tindakan kekerasan, maka ada yang salah dengan keluarganya. 

Orang tua seharusnya memiliki kesepakatan dan kesamaan dalam mendidik anak. Misalnya seorang ayah dan ibu tidak boleh berbeda dalam memberikan keputusan-keputusan dalam mendidik anak. Hal ini sangat penting sekali supaya tidak menimbulkan konflik, yang kemudian bisa berkembang menjadi self defeating power atau kekuatan yang saling melemahkan.

akibatnya, seorang anak tidak akan hormat kepada kedua orang tuanya, karena melihat dualisme didikan ayah dan ibu yang berbeda. Anak akan memanfaatkan dan mencari pembelaan dari salah satu orangtuanya. Hal ini bisa berakibat fatal, karena anak menimbulkan ketidaktaatan anak kepada orang tua. Dan pada akhirnya, seorang anak tidak akan mendapatkan pengawasan, kedisiplinan dan pendidikan yang benar dari kedua orang tuanya.

Selain itu, keadaan keluarga yang tidak harmonis dan tidak lengkap juga memberikan dampak terhadap perkembangan dan kepribadian anak remaja. Karena banyak kasus terjadi, kejahatan dan perilaku menyimpang anak-anak remaja disebabkan oleh keluarga yang terjadi disentegrasi. 

Pertengkaran, perceraian dan perpisahan orang tua membuat seorang anak remaja tidak mendapatkan kenyaman dan kehangatan didalam rumah, sehingga mereka akhirnya mencari jati diri diluar melalui pergaulan dan teman-temanya. Hal inilah yang biasanya menyebabkan anak-anak remaja terlibat dalam seks bebas, narkoba dan tindakan kejahatan lainnya.

Ingatlah, bahwa keluarga menjadi tempat pertama dan utama bagi pendidikan anak, karena 90%  sikap dan kepribadian seorang anak dibentuk didalam keluarga.

   2. Faktor masyarakat dan budaya

Selain keluarga, pengaruh lingkungan sangat berperan terhadap perkembangan kepribadian seorang anak. Apabila kita memperhatikan budaya bangsa indonesia, maka terlihat jelas bahwa nilai-nilai agama yang kuat, sopan-santun yang tinggi menjadi ciri utama kehidupan masyarakat kita.

Namun seiring waktu, budaya tersebut mulai terkikis, kehidupan masyarakat yang dahulu santun sekarang mulai bebas, dan banyak sekali budaya kekerasan yang bisa dijumpai dimana-dimana. Hal ini cukup mengkhawatirkan, apabila anak remaja tidak mendapatkan pendidikan yang baik dirumah, maka akan mudah sekali terpengaruh dengan faktor-faktor sekitar.

Lingkungan dan budaya dimana ia tinggal sangat memberikan pengaruh, apabila lingkungannya buruk maka otomatis akan memberikan pengaruh buruk bagi mereka. Oleh sebab itu, orang tua harus memperhatikan pergaulan anak-anaknya.

   3. Faktor teman sebaya

Pada tahap usia remaja, anak-anak remaja sangat suka berteman dengan orang-orang yang sebaya dengan dirinya. Mereka juga suka berkumpul dan nongkrong bersama teman-teman yang dianggap cocok dan sejalan dengan pikirannya. 

Tidak heran apabila banyak anak-anak remaja yang ditemui sering berkumpul bersama, karena pada tahap itu mereka membutuhkan penerimaan dan penghargaan, dan biasanya itu diperoleh dari teman sebayanya.

Karena remaja lebih banyak berada diluar rumah bersama dengan teman-teman sebaya sebagai kelompok, maka dapat dimengerti bahwa pengaruh teman-teman sebaya pada sikap, pembicaraan, minat, penampilan, dan perilaku bisa lebih besar dari pada pengaruh keluarga.
Jadi penting sekali untuk memberikan pengawasan dan kedisiplinan kepada anak-anak remaja, supaya tidak terpengaruh oleh teman-teman sebaya dalam tindakan-tindakan yang melanggar norma-norma hukum dan nilai-nilai agama.

   4. Faktor pacaran

Usia remaja pada umumnya, memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, emosi yang tidak stabil, kritis dan secara biologis ada keinginan-keinginan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Anak remaja yang sudah mengenal lawan jenisnya, biasanya sudah mulai tertarik dan mulai berpacaran. 

Mereka akan saling mengenal dan ingin mencintai dan disayangi. Pada fase inilah biasanya anak remaja menghadapi tantangan dalam menentukan sikap dalam berpacaran. Tanpa sikap yang jelas dan benar maka mereka akan memasuki tahap pacaran dengan kebingunan dan ketidak-pastian arah. 

Apabila tidak mendapatkan pendidikan yang benar didalam keluarga, bisa saja anak remaja akan terjerumus dalam seks bebas. Hal ini sangat mungkin, karena perkembangan psikologis dan fisiologis yang semakin matang serta disertai hormon-hormon yang meningkat dapat memberikan gejolak seksual yang tinggi, yang akibatnya bisa terjerumus dalam seks bebas.

Orang tua memiliki peran dan tugas yang penting serta menjadi penentu terhadap pertumbuhan dan kehidupan anak-anaknya.
Education_Blog
Education_Blog Teacher yang menyukai hal-hal unik dan tantangan, terutama tantangan hidup "hehehe."

Posting Komentar untuk "7 Faktor penyebab seks bebas pada anak remaja"