Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Tips memahami 8 Pola Belajar Peserta didik

Pola belajar peserta didik


gambar anak membaca buku
www.pexels.com/@mentatdgt

Mengetahi pola belajar peserta didik adalah modal bagi seorang guru untuk menentukan strategi pembelajaran.  Robert M. Gagne membedakan pola-pola belajar peserta didik kedalam delapan tipe, yang tiap-tiap tipe merupakan prasyarat bagi lainnya yang lebih tinggi hierarkinya.

Belajar tipe1: signal learning (belajar isyarat)

gambar membaca buku
www.pexels.com/@Andrea Piacquadio

Signal learning merupakan tahap belajar yang paling dasar, jadi tidak ada persyratan, namun merupakan hierarki yang harus dilalui menuju jenjang belajar yang paling tinggi. 

Signal learning dapat diartikan sebagai penguasaan pola-pola dasar perilaku yang bersifat involuntary ( tidak sengaja dan tidak disengaja tujuannya). Dalam hal ini terlibat aspek reaksi emosional didalamnya.

Kondisi yang diperlukan dalam untuk berlangsungnya tipe belajar adalah diberikannya stimulus (signal) secara serempak dan perangsang-perangsang tertentu secara berulang kali. Signal learning hampir sama atau mirip dengan teori conditioning menurut Pavlov, belajar yang timbul karena adanya pengalaman tertentu. 

Belajar tipe 2: Stimulus-respon learning (belajar stimulus-respon)

Stimulus-respon learning digolongkan dalam jenis classical condition, maka pembelajaran ini termasuk dalam instrumental conditioning atau belajar dengann trial and error (mencoba-coba).

Proses belajar bahasa pada anak-anak merupakan proses yang serupa dengan ini. Kondisi yang diperlukan untuk berlangsungnya tipe belajar ini adalah faktor inforcement. 

Waktu antara stimulus pertama dan berikutnya amat penting, makin singkat S-R (stimulus-respon) dengan S-R berikutnya, semakin kuat reinforcement.

Contoh: Anjing dapat diajar "memberi salam" dengan mengangkat kaki depannya bila dikatakan "kasih tangan" atau "salam." Ucapan "kasih tangan" merupakan stimulus yang yang menimbulkan respon "memberi salam" oleh anjing itu.

Belajar tipe 3: chaining (rangkai atau rangkaian)

Chaining adalah belajar menghubungkan satuan ikatan "stimulus-respon' yang satu dengan yang lain. Kondisi yang diperlukan bagi berlangsungnya tipe belajar ini antara lain, secara internal anak didik sudah harus terkuasai sejumlah satuan pola stimulus-respon, baik psikomotorik maupun verbal. Selain itu prinsip kesinambungan, pengulangan, dan reinforcement tetap penting bagi berlangsungnya proses chaining.

Contoh pembelajaran chaining dalam kehidupan sehari-hari sangat sekali, misalnya pulang kantor, ganti baju, makan malam dan sebagainya. Chaining terjadi apabila terbentuk hubungan antara S-R, sebab terjadinya setelah yang satu lagi. jadi inti dari tipe belajar ini adalah hubungan berkelanjutan.

Belajar tipe 4: verbal association (asosiasi verbal)

Tipe belajar ini menghubungkan satuan ikatan stimulus-respon yang satu dengan yang lain. Bentuk verbal association yang paling sederhana adalah bila diperlihatkan suatu bentuk geometris, dan sianak dapat mengatakan "bujur sangkar," atau mengatakan "itu bola saya" bila melihat bolanya.

Sebelumnya, ia harus membedakan bentuk geometris agar dapat mengenal 'bujur sangkar' sebagai salah satu bentuk geometris atau mengenal "bola saya" dan" itu." hubungan ini terbentuk, bila unsurnya terdapat dalam urutan tertentu, yang satu segera mengikuti satu lagi.

Belajar tipe 5: discrimination learning (belajar diskriminasi)

Discrimination learning atau belajar membedakan.tipe belajar ini peserta didik mengadakan seleksi dan pengujian diantara perangsang atau sejumlah stimulus yang diterimanya, kemudian memilih pola-pola respon yang dianggap paling sesuai. 

Kondisi utama berlangsung proses belajar ini adalah peserta didik sudah mempunyai pola aturan untuk melakukan chaining dan association serta memiliki pengalaman stimulus-respon.

Contoh: Guru mengenal peserta didik serta nama-nama masing karena mampu mengadakan diskriminasi diantara anak-anak itu. Diskriminasi didasarkan atas chaining. 

Belajar tipe 6: concept learning (belajar konsep)

Concept learning adalah belajar pengertian. Dengan berdasarkan kesamaan ciri-ciri dari sekumpulan stimulus dan objek-objeknya, ia membentuk suatu pengertian dan konsep. Kondisi utama yang diperlukan adalah menguasai kemahiran diskriminasi dan proses kognitif fundamental sebelumnya.

Belajar konsep dapat dilakukan karena kesanggupan manusia untuk mengadakan representasi internal tentang dunia sekitarnya menurut konsep itu, misalnya menurut warna, bentuk, besar, jumlah dan sebagainya.

Ia dapat menggolongkan manusia menurut hubungan keluarga, seperti bapak, ibu, paman, saudara dan sebagainya.

Belajar tipe 7: rule learning (belajar aturan)

Rule learning adalah belajar membuat generalisasi, hukum, dan kaidah. Pada tingkat ini peserta didik belajar mengadakan kombinasi berbagai konsep dengan mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal (induktif, deduktif, sintesis, asosiasi dan lain sebagainya) sehingga peserta didik dapat menemukan konklusi tertentu yang mungin selanjutnya dipandang sebagai "rule" prinsip, dalil, aturan, hukum, kaidah dan sebagainya.

Belajar tipe 8: problem solving (pemecahan masalah)

Problem solving adalah belajar memecahkan masalah. Pada tingkat ini para peserta didik belajar merumuskan dan memecahkan masalah, memebri respon terhadap rangsangan yang menggambarkan atau membangkitkan situasi problematik, yang mempergunakan berbagai kaidah yang telah dikuasainya. 

Belajar memecahkan masalah itu berlangsung sebagi berikut: individu menyadari masalah bila ia dihadapkan kepada situasi keraguan dan kekaburan sehingga merasakan adanya semacam kesulitan.

Merumuskan dan menegaskan masalah. Individu melokalisasi letak sumber kesulitan, untuk memungkinkan mencari cara pemecahannya. Mereka menandai aspek mana yang mungkin dipecahkan dengan menggunakan prinsip atau dalil serta kaidah yang diketahui sebagai pegangan.

Mencari fakta pendudukng dan merumuskan hipotesis. Individu menghimpun berbagai informasi yang relevan termasuk pengalaman orang lain dalam menghadapi pemecahan masalah yang serupa, kemudian mengidentifikasi berbagai alternatif menungkinan pemecahannya yang dapat dirumuskan sebagai pertanyaan dan jawaban sementara yang memerlukan pembuktian (hipotesis)

Mengevaluasi alternatif pemecahan yang dikembangkan. Setiap alternatif pemecahan ditimbang dari segi untung ruginya selanjutnya dilakukan pengambilan keputusan memilih alternatif yang dipandang paling mungkin dan menguntungkan.

Mengadakan pengujian atau verifikasi. Mengadakan pengujian atau verifikasi secara eksperimentaal alternatif pemecahan yang dipilih, dipraktekkan dan dilaksanakan. 

Dari hasil pelaksanaan itu akan diperoleh informasi untuk membuktikan benar atau tidaknya yang telah dirumuskan.


Sumber Referensi:

Ngalimun dkk, Stretegi dan Model Pembelajaran, (Yogyakarta: Aswaja Pressindo 2016).












Education_Blog
Education_Blog Teacher yang menyukai hal-hal unik dan tantangan, terutama tantangan hidup "hehehe."

2 komentar untuk "Tips memahami 8 Pola Belajar Peserta didik"

Marta 21 April 2022 pukul 05.49 Hapus Komentar
Semangat berkarya 😇
Education_Blog 21 April 2022 pukul 06.00 Hapus Komentar
mksh