Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Paradigma Dewey dan Kolb, Pembelajaran Sebagai Rekonstruksi Pengalaman

Pembelajaran Sebagai Rekonstruksi Pengalaman

Idealnya, seorang guru yang memasuki ruang kelas tidak dengan tangan hampa, mereka harus mendekati para siswanya dengan seperangkat asumsi, asumsi tentang dirinya sendiri, asumsi tentang para siswanya, beserta dengan kemampuan dan minat mereka, serta asumsi tentang bagaimana pembelajaran itu harus diarahkan. 

Kira-kira sampai detik ini, apakah masih ada guru yang datang dan masuk ruang kelas tanpa persiapan dan tidak memilikin rencana pembelajaran yang jelas, semonga saja sudah tidak ada ya "hehehe."

Guru sedang mengajar
www/pexels.com/@Christina Morillo

Asumsi-asumsi yang dimiliki oleh seorang guru, sadar maupun tidak sadar akan membantunya memetakan strategi yang akan ia gunakan dalam mendekati, merancang, dan mengatur proses pembelajaran bagi para siswa. 

Penting untuk dicatat, bahwa guru seharusnya membawa lebih dari satu teori pengajaran agar ia mampu memperoleh perspektif yang jelas mengenai keberagaman aspek dalam proses pembelajaran. 

Paradigma Dewey dan Kolb

Diagram gaya pembelajaran Kolb
sumber: https://www.researchgate.net

Bogner merangkum pemikiran Dewey tentang pembelajaran dengan mengatakan, "Pembelajaran dapat di definisikan sebagai rekontruksi reorganisasi pengalaman yang dapat memberi nilai lebih pada makna pengalaman tersebut dan meningkatkan kemampuan untuk mengarahkan model pengalaman selanjutnya". 

Paradigma Dewey tentang pembelajaran dengan merekontruksi pengalaman sebenarnya memberikan pengalaman belajar yang cukup menarik, karena pengalaman-pengalaman tersebut dapat meningkatkan dan mengembangkan kecerdasan kognitif dan psikomotorik anak-anak 

Ia lalu melanjutkan sintesis ini dengan beberapa poin berikut: pertama, pembelajaran merupakan proses alamiah. Selama hidup, setiap individu hampir selalu terlibat dalam pembelajaran,  berusaha untuk menghubungkan peristiwa-peristiwa kehidupannya dengan makna-makna. Artinya bahwa, pembelajaran terus berlangsung seumur hidup, karena setiap peristiwa dan kejadian yang terjadi pengalaman yang dijadikan sebagai suatu pembelajaran.

Kedua, pembelajaran distimulasi oleh situasi problematik. Pembelajaran merupakan peristiwa alamiah melalui situasi yang alamiah pula yakni kontroversi dan perbedaan. Ketiga,  pembelajaran merupakan proses aktif. Pembelajaran dihasilkan melalui keterlibatan aktif individu dalam merefleksikan pengalaman dan tindakan yang Iya praktikkan di lingkungan tertentu. Misalnya, pembelajar menaruh paku di dinding dan menggantung lukisan di situ, hanya untuk melihat jatuhnya lukisan tersebut ke lantai karena beban lukisan yang terlalu berat.

Keempat, pembelajaran terjadi ketika individu refleksi tentang hasil tindakannya. Dalam hal ini,  pembelajar merujuk kembali ke lukisan, mengingat beberapa hal yang dapat mengarahkan nya untuk membuat semacam jangkar agar dapat menopang lukisan itu di dinding. Refleksi tentang tindakan tersebut dan kesimpulan yang diperoleh dari refleksi inilah yang merepresentasikan proses pembelajaran itu sendiri.

Kelima, pembelajaran lain mungkin saja berefleksi tentang pengalaman yang sama dan menarik kesimpulan bawa iya ternyata tidak terlalu terlampir singga iya perlu meminta orang lain untuk melakukan tugas itu. Dengan demikian, belajar dari pengalaman bisa saja melahirkan dua orang yang menarik 2 kesimpulan yang berbeda dari pengalaman yang sama.

Keenam, pembelajaran melibatkan kemampuan belajar untuk membentuk hubungan-hubungan diantara berbagai gagasan,  makna dan peristiwa. Pembelajaran secara eksperiental didasarkan ada pada hakikatnya nya merupakan proses membangun relasi antara lingkungannya ( pengalaman) dan pikiran serta tindakannya ( refleksi). Secara sederhana dapat dikatakan,  "pembelajaran dihasilkan melalui refleksi terhadap pengalaman" ( Boger,  2008).

Ketujuh, pembelajaran merupakan aktivitas mental yang teratur. Proses belajar dan berpikir saling berhubungan satu sama lain, sebagai proses acak melainkan terhubung dengan kebutuhan-kebutuhan dan tujuan-tujuan tertentu. Menurut Dewey,  " semua pengetahuan pemikiran dan pembelajaran dapat muncul melalui pengalaman".

Penerapan pembelajaran Dewey dan Kolb 

Guru yang menggunakan teori pembelajaran eksperimental akan mengontruksi pelajaran-pelajaran yang dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar melalui eksperimen, melalui tindakan, melalui usaha menciptakan sesuatu.

Dengan demikian, proses pengajaran haruslah mampu meningkatkan proses alamiah pembelajaran itu sendiri.

Paradigma pengajarann Dewey dan Kolb pada umumnya diterapkan dengan langkah-langkah berikut ini:

  • Menyusun materi pelajaran agar sesuai dengan pengalaman siswa
  • Memilih konten pemblejaran yang bermanfaat, konsisten, dan aplikabel pada pengalaman siswa saat ini, bukan untuk masa depannya yang masih jauh.
  • Mengelompokan materi atau konten pembelajaran sesuai dengan pengalaman setiap siswa
  • Menekankan pembelajaran sambil bekerja
  • memperluas konteks pembelajaran pada bidang yang lain atau meningkatkan pengalaman siswa dengan menghadapkan pada situasi yang baru.


Sumber Referensi: 

Miftahul Huda, Model-model Pengajaran dan Pembelajaran: Isu-isu Metodis dan Paradigmatis, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013.

Dewey, J. Experince and Education, NewYork Coller Boook, 1938.

Kolb, D.A. Experiental Learning Theory: Experince as the Source Of Learning and Development, Englewood Cliffs, NJ:Prentice Hall, 1984.

Education_Blog
Education_Blog Teacher yang menyukai hal-hal unik dan tantangan, terutama tantangan hidup "hehehe."

Posting Komentar untuk "Paradigma Dewey dan Kolb, Pembelajaran Sebagai Rekonstruksi Pengalaman"