Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Pengertian dan Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Learning

Penerapan Model pembelajaran Cooperative Learning. Dalam menunjang proses pembelajaran didalam kelas, maka model pembelajaran sangat penting peranannya dalam menyukseskan pembelajaran tersebut. Model pembelajaran dapat membuat suasana pembelajaran menjadi menarik, terencana, serta tujuan yang ingin dicapai akhir dalam pembelajaran tersebut.



Belajar diluar ruangan
https://pixabay.com/@Sasint

Bekerja dalam sebuah kelompok yang terdiri dari tiga atau lebih anggota pada hakikatnya dapat memberikan daya dan manfaat sendiri, hal ini pernah di kemukakan oleh Roger Johnson, Robert Slavin, John Hopkins dan Shlomo Sharan.

Johnson dan  Slavin melakukan serangkain investigasi yang secara langsung menguji asumsi mengenai model pembelajaran sosial yaitu Cooperative Learning. Secara khusus mereka menganalisis apakah tugas kerjasama dan struktur reward dapat mempengaruhi hasil pembelajaran secara positif atau tidak.

Model pembelajaran Cooperative Learning atau pembelajaran Kooperatif sudah banyak digunakan diberbagai penjuru dunia, bahkan metode pembelajaran ini sudah berkembang dan dimodifikasi.

Pengertian Cooperative Learning


Model pembelajaran Cooperative Learning atau pembelajaran Kooperatif adalah model pembelajaran kelompok. Dimana falsafah dasar model pembelajaran ini adalah homo homini socius yang menekankan interaksi sosial manusia, dalam falsafah Indonesia sangat mirip dengan istilah "gotong royong" atau kerjasama.

Model pembelajaran kelompok yang dimaksud disini adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh peserta didik dalam kelompok tertentu untuk mencapai pembelajaran yang telah dirumuskan. 

Ada beberapa unsur penting dalam strategi pembelajaran Cooperative Learning, yaitu adanya peserta didik dalam kelompok, ada aturan kelompok, upaya belajar setiap anggota kelompok dan tujuan yang harus dicapai.

Model pembelajaran  Cooperative Learning memanfaatkan interaksi manusia sebagai makhluk sosial yang saling ketergantungan antara yang satu dengan yang lainnya. Dalam pembelajaran ini, peserta didik memiliki tujuan dan tanggung jawab yang sama, tidak ada yang lebih pintar dari yang lainnya.

Ibarat kapal yang diterpa ombak, mereka akan tenggelam bersama, atau berenang bersama-sama, inilah model pembelajaran cooperative learning, kerjasama adalah kunci utama. Dalam pembelajaran ini, siswa dilatih untuk berbagai (sharing) pengetahuan, pengalaman, tugas dan tanggung jawab.

Cooperative learning merupakan strategi pembelajaran kelompok yang dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik, sekaligus dapat meningkatkan kemampuan interaksi sosial kepada sesama teman, menumbuhkan rasa percaya diri, serta saling menghormati sesama.

Cooperative learning dapat merealisasikan kebutuhan peserta didik dalam belajar berpikir, memecahkan masalah, dan mengintegrasikan pengetahuan dengan keterampilan. Apabila disusun dan dengan baik, maka pembelajaran Cooperative learning dapat disebut sebagai pembelajaran yang paling efektif dalam meningkatkan kemampuan peserta didik.

Pelaksanaan Cooperative learning


ilustrasi: membentuk kelompok
image by rawpixel.com

Selanjutnya, Cooperative learning merupakan model pembelajaarn dengan menggunakan sistem pengelompokan atau tim kecil (sekitar empat sampai enam orang) dengan latar belakang kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, atau suku yang berbeda.

Sistem penilaian dapat terdiri dari dua penilaian, yaitu penilaian individu dan penilaian kelompok. Penilaian individu dilihat dari kontribusinya dalam tugas kelompok, sedangkan penilaian kelompok dilihat dari kekompakan tim dan hasil unjuk kerja kelompok.

Setiap kelompok pastinya akan memperoleh penghargaan atau reward apabila mampu menujukkan prestasi yang baik dalam kelompok, sebaiknya seorang guru selalu memberi penghargaan kepada semua kelompok apabila mereka sudah mengerjakan tugasnya dengan baik. 

Hal ini dapat menumbuhkan semangat dan motivasi mereka dalam mengikuti pembelajaran selanjutnya.


Berikut ada beberapa tahap pelaksanaan Cooperative learning :

1. Sintak

Tahap pertama adalah persiapan kelompok
  • Guru memilih metode, teknik dan struktur pembelajaran
  • Guru menata ruang kelas untuk pembelajaran kelompok
  • Guru merangking siswa untuk pembentukan kelompok
  • Guru membentuk kelompok-kelompok
Tahap kedua adalah pelaksanaan pembelajaran
  • Siswa merancang team building dengan identitas kelompok
  • Siswa dihadapan pada persoalan
  • Siswa mengeksplorasi persoalan
  • Siswa merumuskan tugas dan menyelesaikan persoalan
  • Siswa bekerja mandiri, lalu belajar kelompok.
Tahap ketiga adalah penilaian kelompok
  • Guru memberikan skor hasil belajar kelompok
  • Guru memberi penghargaan kepada kelompok
  • Guru dan peserta didik mengevaluasi perilaku anggota kelompok
2. Sistem sosial

Sistem sosial dalam Cooperative learning begitu menjunjung tinggi nilai-nilai demokratis yang didasarkan pada kesepakatan kolektif antar anggota dalam setiap kelompok.

Dalam pembelajaran ini, peserta didik dan guru memiliki status yang sama namun memiliki peran yang berbeda dalam memaksimalkan serta mengefektifkan pembelajaran kelompok tersebut. 

Peserta didik berperan sebagai pelaksana diskusi dan pemecahan masalah dalam tugas kelompok, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dalam mendesign lingkungan pembelajaran Cooperative learning tetap kondusif.

3. Peran/tugas guru

Dalam pembelajaran  Cooperative learning, selain sebagai fasilitator, guru berperan sebagai konselor, konsultan, dan juga sebagai pemberi kritik yang yang ramah. Guru harus membimbing dan merefleksikan pengalaman kelompok dalam beberapa tingkatan. 

Pertama, pemecahan masalah; apa masalahnya? faktor apa saja yang terlibat didalamnya?, kedua, managemen kelompok; informasi apa saja yang dibutuhkan saat ini? bagaimana mengatur kelompok untuk membicarakan masalah tersebut?, ketiga, level pribadi; apa tanggapan masing-masing anggota mengenai kesimpulan yang telah diperoleh kelompok? apa yang akan dilakukan setelah memperoleh kesimpulan tersebut?

4. Sistem dukungan

 Sistem dukungan dalam Cooperative learning haruslah ekstensif dan responsif terhadap semua kebutuhan peserta didik. Sekolah harus dilengkapi dengan sebuah ruang perpustakaan yang menyediakan informasi dari berbagai sumber, sekolah juga harus menyediakan akses terhadap referensi-referensi luar.

peserta didik harus didorong untuk melakukan interaksi dan berkomunikasi dengan orang-orang yang bisa dijadikan sumber pembelajaran dari luar sekolah.

5. Pengaruh

Model pembelajaran Cooperative learning sangatlah menarik dan bermanfaat, serta komprehensif; ia memadukan antara tujuan penelitian akademik, integrasi sosial, pembelajaran, dan proses kolektif. Model pembelajaran ini bisa diterapkan untuk semua subjek pelajaran.

Model pembelajaran ini mengutakan efektivitas pengelolahan kelompok, kontruksi pengetahuan, dan disiplin dalam penelitian kolaboratif. 

Selain itu,  pengaruh pengiringnya antara lain adalah kemandirian sebagai pembelajar, penghargaan pada hak orang lain, penelitian sosial sebagai pandangan hidup, dan kehangatan serta interpretasi interpersolanal.


Referensi:

Suyadi, Strategi pembelajaran Pendidikan karakter, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2015).
Miftahul Huda, model-model Pengajaran dan Pembelajaran,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2019).
Ngalimun, Strategi dan Model Pembelajaran, (Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2011).







Education_Blog
Education_Blog Teacher yang menyukai hal-hal unik dan tantangan, terutama tantangan hidup "hehehe."

2 komentar untuk "Pengertian dan Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Learning"

Syalom 18 September 2022 pukul 08.09 Hapus Komentar
sangat membantu dan informatif
Education_Blog 18 September 2022 pukul 08.14 Hapus Komentar
Thanks bro