Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Paradigma Pembelajaran: Pengajaran Sebagai COMMON-SENSE

 Pengajaran Sebagai COMMON-SENSE

Pembelajaran sangat memberikan pengaruh yang signifikan kepada anak-anak, bagi segi kognitif, psikomotorik maupun afektif. Oleh sebab itu, penting sekali untuk memahami paradigma-paradigma pembelajaran.

Common Sence dalam pengajaran bukanlah gagasan yang sering didengar di berbagai lembaga pendidikan, melainkan suatu praktik yang telah menjadi kebiasaan dalam kebudayaan masyarakat Indonesia.

Setidak-tidaknya, terdapat dual yang melatarbelakangi mengapa pengajaran dianggap sebagai Common Sence. Yang pertama adalah terkait dengan pengalaman sekolah.

Dilingkungan sosial, sedikit sekali aktifitas yang secara tak sadar menjadi kewajiban yang harus dilakukan oleh masyarakat.

Kita tidak harus menjadi ikut peserta pemilu, tidak ahrus bekerja, tidak harus menikah, tidak harus menjadi tentara atau bahkan tidak harus hidup secara sosial. Akan tetapi, kita ahrus sekolah. Disini terlihat jelas bagaimana "bersekolah" menjadi kesadaran kolektif yang harus dilakukan oleh masyarakat.

Ketika hal itu terjadi, maka masyarakat akan menjadari seperti apa pengajaran yang baik dan tidak baik itu. Jadi, jangan heran jika ada sebagaian guru yang tidak pernah workshop atau pelatihan KBM ternyata berhasil menerapkan sistem pengajaran yang lebih efektif dan menyenangkan.

Kita mengorganisasi sumber-sumber, merencanakan aktifitas-aktifitas, menjelaskan sesuatu kepada orang lain, bertanya dan menjawab pertanyaan, membimbing, mendorong, dan mengkritik.

Hanya ada beberapa hal yang mungkin tidak mirip dengan aktifitas sehari-hari, seperti berceramah, manajemen kelas, ruang nyaman, dan evaluasi. Kita melewati semua proses ini dengan trial-error dalam rangka menjadi guru yang lebih baik.

Meski demikian, dalam lingkungan sosial pun, kita sedang melaksanakan proses itu, meski dengan cara berbeda "non teknis". Singkatnya pengajaran sebenarnya merupakan aktifitas yang sehari-hari, dimana hampir semua orang bisa melakukannya.

kelemahan pengajaran common-sence

Pada umumnya, common sence pada seseorang lebih bersifat kolektif. Karena pengajaran diterima dengan begitu saja secara apa adanya, maka paradigma pengajaran common sence memiliki kelemahan.

Pertama, apa yang disebut dengan kehidupan sehari-hari pada hakekatnya adalah sesuatu yang kita terima secara taken for granted. Hal ini akan berbeda saat kita menerapkan pengajaran.

Kehidupan sehari-hari merupakan pengalaman yang tercerai-berai, tidak sistematis, dan tidak memerlukan analisis mendalam untuk mengalaminya. Oleh sebab itu, pengajaran merupakan realitis yang berbeda.

Untuk menjadi pengajar yang baik, seseorang tidak bisa menerima kenyataan secara token for granted. Ada kalkulasi rasional didalamnya dan ada perangkat-perangkat tertentu yang harus digunakan.

Kedua, paradigma common sence menempatkan pengajaran sebagai sesuatu yang telah diketahui secara umum. "Setiap orang sudah mengetahui hal ini." Dengan demikian, ini berkaitan dengan bagaimana pengajaran dianggap sebagai aktivitas sehari-hari yang pada umumnya terlokalisasikan, spesifik atau konkret.

Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa pengajaran merupakan representasi profesionalitas. Common sence, dalam derajat tertentu, berbeda dengan profesionalitas. 

Kerja profesionalitas melibatkan keahlian tertentu, properti khusus, prosedur-prosedur yang sistematis, keahlian dan sebagainya.

Kerja profesionalitas bisa saja dianggap sebagai common sence, tetapi akan sulit jika profesionalitas direduksi begitu saja menjadi aktivitas sehari-hari.






Education_Blog
Education_Blog Teacher yang menyukai hal-hal unik dan tantangan, terutama tantangan hidup "hehehe."

Posting Komentar untuk "Paradigma Pembelajaran: Pengajaran Sebagai COMMON-SENSE"