Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Paradigma Pembelajaran, Pengajaran Sebagai Seni

 Pengajaran Sebagai Seni

Pengajaran sebagai seni pada hakekatnya merupakan gagasan kuno. Salah satu buku yang membahasnya adalah The Art of Teaching Highet, yang pertama kali terbit pada tahun 1963. 



Menurut Highet, pengajaran dianggap seni karena ia juga menuntuk kualitas dan karakteristik personal. 

Sebagaimana seni, pengajaran melibatkan metode-metode, seperti seorang pengajar yang harus menyukai materi dan siswanya, dan juga kemampuan semacam memori, kebajikan dan kekuatan hati.

Literatur lain yang sejalan dengan paradigma ini adalah The University Teacher as Artist karangan Axelrod (1973). 

Menurut Axelrod, guru layaknya seniman, karena ia merupakan representasi dari berbagai gaya; gaya yang bukan sekedar superfisial dan dekoratif, melainkan ekspresi autentik untuk menjadi siapa dirinya dihadapan para siswa.

Dengan cara yang lebih sistematis, Delamont (1995) mendeskripsikan beberapa alasan mengapa pengajaran bisa dianggap sebagai seni.

Pertama, pengajaran terkadang ditunjukkan dengan skill dan keindahan praktik, yang bisa dianggap sebagai pengalaman estentik. 

Kedua, pengajaran melibatkan penilaian-penilaian kualitatif yang didasarkan pada gaya tindakan yang menyeluruh.

Ketiga, pengajaran bersifat kontingen dan tak terprediksikan dari pada sebagai rutinitas tertentu. 

Keempat, hasil pengajaran seringkali diciptakan selama proses-proses ini. Meski demikian, Tom (1984) mempertegas paralelitas pengajaran dan apa yang disebut dengan seni itu. 

Bagi Tom, ada dua jenis seni, yakni fine art dan practial art, dan pengajaran lebih cocok sebagai metafor dari seni jenis kedua.

Masalah paradigma pengajaran sebagai seni

Akan tetapi, ada beberapa masalah dalam paradigma pengajaran sebagai seni. Pertama, ketika pengajaran dianggap seni, maka ia cenderung romantik, dari pada disiplin. 

Artinya, pengajaran hanya fokus pada spontanitas, ekspresi, respon kreatif, dan sebagainya, dari pada sebagai teknit dan strategi sistematis.

Mungkin pengajaran sebagai seni lebih cocok untuk seni itu sendiri, tetapi saat ini adalah era dimana strategi pengajaran terjalian keindahan dengan subjek pengajaran. 

Multi-strategi sangat ditekankan dari pada monostrategi, dan ini mengharuskan setiap guru dan juga termasuk guru seni.

Kedua, jika pengajaran dianggap sebagai kolaborasi gaya-gaya, lalu bagaimana gaya itu dideskripsikan? 

Saat ini, apa yang disebut dengan gaya sangat problematis, karena ia menyangkut perbedaan gagasan tentang bahasa, perbedaan pandangan literatur, dan perbedaan relasi dengan audiens.

Dengan demikian, konsep gaya itu sendiri sudah menjadi problem sejak awal, sementara pengajaran saat ini harus dilaksanakan diera standar-standar dan akuntabilitas.

Ada indikator-indikator yang harus dipenuhi oleh seorang guru dalam proses pengajarannya. Artinya, pengajaran bukanlah skill yang lahir dari dalam, melainkan ia juga banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal dan kebijakan-kebijakan yang seringkali "politis."













Education_Blog
Education_Blog Teacher yang menyukai hal-hal unik dan tantangan, terutama tantangan hidup "hehehe."

Posting Komentar untuk "Paradigma Pembelajaran, Pengajaran Sebagai Seni"